
Era disrupsi adalah masa di mana inovasi seperti teknologi mengubah sistem dan tatanan lama yang sudah ada secara fundamental. Era ini menciptakan perubahan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan seperti bisnis, sosial, dan kebiasaan. Era disrupsi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan pola belajar baru membuat hubungan antara guru, murid, dan proses pendidikan mengalami pergeseran signifikan. Pada titik inilah peran guru dan murid perlu dipahami ulang, bukan untuk meninggalkan nilai-nilai lama, tetapi untuk memperkuat peran mereka agar tetap relevan di tengah perubahan cepat yang terjadi. Di masa lalu, guru sering dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Namun di era disrupsi, informasi begitu mudah didapat bahkan dalam hitungan detik. Kendati demikian, kehadiran guru justru semakin penting. Guru bukan lagi sebatas pengajar, tetapi pembimbing yang mampu menyaring informasi yang tepat dan terpercaya, menumbuhkan karakter, empati, dan integritas pada peserta didik, serta menjadi teladan kedisiplinan dan keikhlasan dalam belajar sepanjang hayat. Guru juga bertugas mengarahkan murid agar memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab, sekaligus membentuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Karena itu, guru dituntut terus belajar, meng-upgrade kemampuan digital, dan memadukan metode tradisional dengan teknologi modern. Guru hebat bukan yang paling canggih menggunakan gawai, tetapi yang mampu menempatkan teknologi sebagai washilah (alat), bukan ghayyah (tujuan).

Photo Galery : Muhamad Subhan (Ketua LP Maarif NU PCNU Kota Pekalongan
Era disrupsi adalah masa di mana inovasi seperti teknologi mengubah sistem dan tatanan lama yang sudah ada secara fundamental. Era ini menciptakan perubahan besar-besaran dalam berbagai aspek kehidupan seperti bisnis, sosial, dan kebiasaan. Era disrupsi telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial, dan pola belajar baru membuat hubungan antara guru, murid, dan proses pendidikan mengalami pergeseran signifikan. Pada titik inilah peran guru dan murid perlu dipahami ulang, bukan untuk meninggalkan nilai-nilai lama, tetapi untuk memperkuat peran mereka agar tetap relevan di tengah perubahan cepat yang terjadi. Di masa lalu, guru sering dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Namun di era disrupsi, informasi begitu mudah didapat bahkan dalam hitungan detik. Kendati demikian, kehadiran guru justru semakin penting. Guru bukan lagi sebatas pengajar, tetapi pembimbing yang mampu menyaring informasi yang tepat dan terpercaya, menumbuhkan karakter, empati, dan integritas pada peserta didik, serta menjadi teladan kedisiplinan dan keikhlasan dalam belajar sepanjang hayat. Guru juga bertugas mengarahkan murid agar memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab, sekaligus membentuk kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif. Karena itu, guru dituntut terus belajar, meng-upgrade kemampuan digital, dan memadukan metode tradisional dengan teknologi modern. Guru hebat bukan yang paling canggih menggunakan gawai, tetapi yang mampu menempatkan teknologi sebagai washilah (alat), bukan ghayyah (tujuan).
